Skip to content

Budidaya PADI

19/06/2010

BUDIDAYA PADI
Produksi gabah padi di Indonesia rata-rata 4 – 5 ton/ha. Hasil panen optimal bisa mencapai 8 ton/ha karena pola pemupukan yang kurang bijak sehingga menurunkan potensi hasil dari lahan tersebut. PT. SIGMA GLOBAL HITECHS berupaya membantu tercapainya ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi padi berdasarkan asas kuantitas, kualitas dan kelestarian (K-3).

SYARAT TUMBUH
Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur 190C-270C , memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 – 7.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

A.Benih
Dengan jarak tanam 25 x 25 cm per 1 ha sawah membutuhkan 15-30 kg. Jumlah ideal benih yang disebarkan sekitar 50-60 gr/m2. Perbandingan luas tanah untuk pembenihan dengan lahan tanam adalah 3 : 100, atau 1 ha sawah : 35 m2 pembibitan

B.Perendaman Benih
Benih direndam PPC SIGMAFOLLIAR dan air, dosis 10 ml/10 lt air selama 6-12 jam, benih padi yang mengambang dibuang, tiriskan dan semai benih dilahan persemaian.
C.Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 3 – 5 cm. Setelah bibit berumur 7-10 hari dan 14-18 hari, dilakukan penyemprotan PPC SIGMAFOLLIAR dengan dosis 2 tutup/tangki.

D. Pemindahan benih
Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 21-30 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit.

F. Pemupukan
Pemupukan seperti pada tabel berikut, dosis pupuk sesuai dengan hasil panen yang diinginkan. Semua pupuk makro dicampur dan disebarkan merata ke lahan sesuai dosis. Hasil akan bervariasi tergantung jenis varietas, kondisi dan jenis tanah, serangan hama dan penyakit serta

Tabel 1. Perhiungan penggunaan pupuk kimia dan PPC SIGMAFOLLIAR per hektar
Jenis Pupuk Dosis Pupuk (Per Hektar/Sekali Tanam)
Cara Konvensional / Petani
Jml (kg) Harga /kg Total
Pupuk Kandang Rp 350.00 Rp –
Urea/ZA 300 Rp 1,400.00 Rp 420,000.00
TSP/SP-36 100 Rp 1,700.00 Rp 170,000.00
KCL 100 Rp 6,000.00 Rp 600,000.00
Fungisida 2 Rp 200,000.00 Rp 400,000.00
POC SIGMAFOLLIAR
Jumlah Rp 1,590,000.00
Jenis Pupuk Dosis Pupuk (Per Hektar/Sekali Tanam)
Dipadu dengan POC SIGMAFOLLIAR
Jml (kg) Harga /kg Total
Pupuk Kandang 0 Rp 350.00 Rp –
Urea/ZA 150 Rp 1,400.00 Rp 210,000.00
TSP/SP-36 50 Rp 1,700.00 Rp 85,000.00
KCL 50 Rp 6,000.00 Rp 300,000.00
Fungisida Rp200,000.00 Rp –
POC SIGMAFOLLIAR 4 Rp 80,000.00 Rp 320,000.00
Jumlah Rp 915,000.00

Tabel 2. Aplikasi Pemupukan Konvensional/ha
Waktu Aplikasi
Jenis Pupuk Olah Tanah (kg) 14 hari (kg) 30 hari (kg) 45 hari (kg) 60 hari (kg)
Urea/ZA – 150 – 150 –
SP-36 50 – 50 – –
KCl – 50 – 50 –
POC SIGMAFOLLIAR – – – – –

Tabel 3. Aplikasi Pemupukan Konvensional + POC SIGMAFOLLIAR /ha
Waktu Aplikasi
Jenis Pupuk Olah Tanah (kg) 14 hari ( kg ) 30 hari ( kg ) 45 hari ( kg ) 60 hari ( kg )
Urea/ZA – 75 – 75 –
SP-36 25 – 25 – –
KCl – 25 – 25
POC SIGMAFOLLIAR 10ml+7liter air 10ml+7liter air 10ml+7liter air 10ml+7liter air
Catatan : Aplikasi PPC SIGMAFOLLIAR disemprot kepermukaan daun, terutama
Permukaan daun bagian bawah secara merata.

Cara Penggunaan POC SIGMAFOLLIAR

1. Pemberian POC SIGMAFOLLIAR dengan cara melarutkan 10 ml POC SIGMAFOLLIAR dalam 7 liter air kemudian disemprotkan pada permukaan daun tanaman, terutama permukaan daun bagian bawah.
2. Penyemprotan dilakukan pada umur tanaman 15,30,45 dan 60 Hari Setelah Tanam (HST).

G. PENGOLAHAN LAHAN RINGAN
Dilakukan pada umur 20 HST, bertujuan untuk sirkulasi udara dalam tanah, yaitu membuang gas beracun dan menyerap oksigen.

H.PENYIANGAN
Penyiangan rumput-rumput liar seperti jajagoan, sunduk gangsir, teki dan eceng gondok dilakukan 3 kali umur 15, 35 dan 55.

I. PENGAIRAN
Penggenangan air dilakukan pada fase awal pertumbuhan, pembentukan anakan, pembungaan dan masa bunting. Sedangkan pengeringan hanya dilakukan pada fase sebelum bunting bertujuan menghentikan pembentukan anakan dan fase pemasakan biji untuk menyeragamkan dan mempercepat pemasakan biji.

J. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

1. Hama putih (Nymphula depunctalis)
Gejala: menyerang daun bibit, kerusakan berupa titik-titik yang memanjang sejajar tulang daun, ulat menggulung daun padi. Pengendalian: (1) pengaturan air yang baik, penggunaan bibit sehat, melepaskan musuh alami, menggugurkan tabung daun; (2) menggunakan pestisida sistemik.

2.Padi Thrips (Thrips oryzae)
Gejala: daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan, pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi. Pengendalian: menggunakan pestisida sistemik.

3.Wereng penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera) dan Wereng penyerang daun padi: wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N. impicticep).
Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi dan dapat menularkan virus. Gejala: tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tanaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil. Pengendalian: (1) bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR- 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) menggunakan pestisida sistemik

4.Walang sangit (Leptocoriza acuta)
Menyerang buah padi yang masak susu. Gejala buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan bulir padi berbintik-bintik hitam.
Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatankebersihan, mengumpulkan dan memusnahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik, laba-laba; (2) menggunakan pestisida sistemik

5.Kepik hijau (Nezara viridula)
Menyerang batang dan buah padi. Gejala: pada batang tanaman terdapat bekas tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan tanaman terganggu. Pengendalian: mengumpulkan dan memusnahkan telur-telurnya, penyemprotan menggunakan pestisida sistemik

6.Penggerek batang padi
Penggerek batang padi terdiri atas: penggerek batang padi putih (Tryporhyza innotata), kuning (T. incertulas), bergaris (Chilo supressalis) dan merah jambu (Sesamia inferens). Menyerang batang dan pelepah daun. Gejala: pucuk tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut, daun mengering dan seluruh batang kering. Kerusakan pada tanaman muda disebut hama “sundep” dan pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut “beluk”. Pengendalian: (1) menggunakan varitas tahan, meningkatkan kebersihan lingkungan, menggenangi sawah selama 15 hari setelah panen agar kepompong mati, membakar jerami; (2) menggunakan pestisida sistemik

7.Hama tikus (Rattus argentiventer)
Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah. Gejala: adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman. Pengendalian: pergiliran tanaman, tanam serempak, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan NAT (Natural Aromatic). SIGMAFOLLIAR sudah mengandung anti tikus alami.

8.Burung
Menyerang menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan. Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.

9. Penyakit Bercak daun coklat
Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae.
Gejala: menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati. Pengendalian: (1) merendam benih di air hangat + PPC SIGMAFOLLIAR, pemupukan berimbang, tanam padi tahan penyakit ini.

10. Penyakit Blast
Penyebab: jamur Pyricularia oryzae. Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk.
Pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa. Pengendalian: (1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandiri IR-48, IR-36, pemberian pupuk N di saat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir.

11.Busuk pelepah daun
Penyebab: jamur Rhizoctonia sp. Gejala: menyerang daun dan pelepah daun pada tanaman yang telah membentuk anakan. Menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit (2) menggunakan pestisida sistemik

12Penyakit Fusarium
Penyebab: jamur Fusarium moniliforme. Gejala: menyerang malai dan biji muda menjadi kecoklatan, daun terkulai, akar membusuk. Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih + PPC SIGMAFOLLIAR.

13.Penyakit kresek/hawar daun
Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae Gejala: menyerang daun dan titik tumbuh. Terdapat garis-garis di antara tulang daun, garis melepuh dan berisi cairan kehitam-hitaman, daun mengering dan mati. Pengendalian: menanam varitas tahan penyakit seperti IR 36, IR 46, Cisadane, Cipunegara, menghindari luka mekanis, sanitasi lingkungan

14. Penyakit kerdil
Penyebab: virus ditularkan oleh wereng coklat Nilaparvata lugens. Gejala: menyerang semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau kekuning-kuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi kecil. Pengendalian: sulit dilakukan, usaha pencegahan dengan memusnahkan tanaman yang terserang ada mengendalikan vector dengan Pestisida sistemik.

15. Penyakit tungro
Penyebab: virus yang ditularkan oleh wereng hijau Nephotettix impicticeps. Gejala: menyerang semua bagian tanaman, pertumbuhan tanaman kurang sempurna, daun kuning hingga kecoklatan, jumlah tunas berkurang, pembungaan tertunda, malai kecil dan tidak berisi. Pengendalian: menanam padi tahan wereng seperti Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42 dan mengendalikan vektor virus dengan Insektisida sistemik.

K. PANEN DAN PASCA PANEN
•Panen dilakukan jika butir gabah 80 % menguning dan tangkainya menunduk

• Alat yang digunakan ketam atau sabit
• Setelah panen segera dirontokkan malainya dengan perontok mesin atau tenaga manusia
• Usahakan kehilangan hasil panen seminimal mungkin
Setelah dirontokkan diayaki (Jawa : ditapeni)
• Dilakukan pengeringan dengan sinar matahari 2-3 hari
• Setelah kering lalu digiling yaitu pemisahan gabah dari kulit bijinya.
• Beras siap dikonsumsi

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: