Lanjut ke konten

Mengapa tanaman tidak dapat memanfaatkan semua pupuk P yang diberikan

27/09/2010

Hal ini akibat tanah di indonesia (daerah tropis) yang kerap tercuci oleh curah hujan tinggi sehingga banyak kation-kation basa tercuci akibatnya tanah banyak mengandung ion H+ dan tanah menjadi masam.

Pada tanah yang masam, banyak anion Al 3+ dan Fe 3+ di dalam tanah yang dapat mengikat ion H2PO4- yang besaral dari pemberion pupuk P. Akibatnya sebagian kecil saja ( sekitar 30% ) pupuk Pyang dapat diseap oleh tanaman. Sementara pada daerah dengan curah hujan rendah, seperti di Nusa Tenggara dan biasanya tanah banyak mengandung kapur ( tanah Alkali), kation Ca2+ yang banyak pada tanah tersebut akan mengikat unsur P. Maka, ketersediaan unsur P pada tanah tersebut rendah. Padahal unsur P sangat penting bagi tanaman antara lain untuk pembelahan sel, perkembangan akar, pembentukan bunga,buah, biji dll.

Mikroba pelarut fosfat bersifat menguntugkan karena mengeluarkan berbagai macam asam organik seperti asam formiat, asetat,propionat,laktat, glikolat, fumarat dan suksinat. Asam asam organik ini dapat membentuk khelat( komplek stabil) dengan kation Al,Fe, atau Ca yang mengikat P, sehingga ion H2PO4- menjadi bebas dari ikatannya dan tersedia bagi tanaman untuk diserap.

Inokulasi mikroba pelarut fosfat biasanya dilakukan pada saat tanaman bersamaan dengan pemupukan P. Pada kasus tanah dengan kandunagn P tinggi akibat akumulasi atau residu pemberian pupuk P yang menumpuk, maka mikroba pelarut fosfat dapat digunakan sebagai penambang P dari tanah tersebut.

Dengan pemberian mikroba pelarut fosfat diharapkan mikroba tersebut dapat meningkatkan palerutan P dari pupuk P yang diberikan, maupun senyawa P yang bersal dari sisa pemupukan sebelumnya di dalam tanah.

Populasi mikroba tersebut dalam tanah berkisar dari ratusan sampai puluhan ribu sel pe gram tanah.

Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba

27/09/2010

Tanah sangat kaya dengan keragaman mikroorganisme, seperi bakteri, aktinomicetes,fungi,protozoa,alga dan virus. Tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah.

Mikroorganisme sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata biasa, yang yang berpopulasi didalam 1 gram tanah sebagai berikut:

Bakteri             : 3.000.000 sampai 500.000.000

Fungi                : 1.000.000 sampai 20.000.000

Yeast               : 1.000 sampai 1.000.000

Protozoa          : 1.000 sampai 500.000

Algae               : 1.000 sampai 500.000

Nematodes       : 10 sampai 5.000

Sebagian mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungkan bagi pertanian, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, recycling hara tanaman, fiksasi biologi nitrogen, pelarut fosfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen, dan membantu penyerapan unsur hara.

Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut.

CARA MEMBUAT LARUTAN GIBERELIN

31/08/2010

Cara untuk melarutkan Giberelin ini sangat mudah anda tinggal menyediakan tabung reaksi, tempat dari bahan gelas atau plastik sebaiknya ukuran agak besar minimal 1,5 liter.

Langkahnya:
1. timbang giberelin kadar 90 % sebanyak 1 gram.
2. masukkan kedalam tabung reaksi.
3. tambahkan alkohol 70% atau 90% sebanyak 20-50 ml.
4. aduk atau larutkan sampai larut sempurna.
5. tuang di tempat yang lebih besar, tambahkan air sampai volumenya mencapai 1 liter. ( jika anda menggunakan alhokol 20 ml air yang ditambahkan 980 ml).
6. anda sudah mendapatkan larutan giberelin dengan konsentrasi 900 ppm
7. sekarang anda tinggal menggunakan larutan tersebut sesuai kebutuhan anda.
untuk mendapatkan larutan giberelin dengan konsentrasi 90 ppm anda tinggal mengambil dari larutan induk yang sudah dibuat tadi sebanyak 10 ml dan ditambahkan air sampai volume 10 liter anda sudah mendapatkan larutan giberelin yang siap diaplikasikan.

Tehnik Memproduksi Mangga di luar musim

17/08/2010

Di Thailand, buah mangga segar tersedia sepanjang tahun. Hal ini bisa terjadi karena penerapan metode atau tehnologi modern produksi buah di luar musim melalui pengaturan waktu induksi bunga disertai dengan pengendalian hama penayakit, pembrongsongan buah, serta pemberian air dan pupuk secara seimbang. Sebelumnya musim panen mangga secara alami hanyabterjadi pada bulan April sampai Mei. Dengan tehnologi produksi diluar musim, mangga dapat di produksi dari januari sampai desember.

Perkebunan mangga secara komersial talah banyak dibuka di indonesia, kendala yang dihadapi adalah sifat dari tanaman mangga yang berbuah secara musiman sehingga kontinuitasnya sulit, pada saat panen raya stok buah menumpuk sehingga harga jatuh. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan tehnik budidaya yang dapat mengatur saat pembungaan agar ketersediaan buah dapat terjamin sepanjang tahun.

Tehinik produksi mangga diluar musim yang paling umum digunakan adalah dengan pemberian paklobutrazol diikuti dengan penyemprotan zat pemecah dormansi. Pada perkebunan mangga skala komersil, ada kecenderungan bahwa pemakaian paklobutrazol sudah merupakan bagian dari kegiatan yang bersifat rutin.

Induksi pembungaan mangga terjadi 2-3 bulan setelah perlakuan paklobutrazol, tergantung varietasnya. Perlakuan paklobutrazol pada mangga gadung 21 menyebabkan pembungaan terjadi 2 bulan lebih cepat dari musim normalnya. Waktu masak buah semakin cepat dan kekerasan buah semakin berkurang dengan semakin meningkatnya takaran paklobutrazol. Hasil per poho meningkat 59 %, tetapi ukuran buah rata-rata menurun. Kandungan vitamin C meningkat tetapi pH dan total padatan terlarut tidak berubah (Purnomo dan Prahardini, 1989).

Dari berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan, dosis optimum paklobutrazol untuk menginduksi pembungaan mangga dan menekan pertumbuhan vegetatif tanpa merusak pohon berkisar antara 2,5-4g bahan aktif/pohon atau setara dengan 10-16 cc cultar/ liter air / pohon. Perlakuan yang melebihi 20 cc cultar/liter air / pohon menyebabkan munculnya perubahan bentuk daun yang menandakan bahwa pada konsentrasi diatas 20 cc/ liter air /pohon terjadi efek negatif dari paklobutrazol.

Hasil penelitian Poerwanto, et al., (1997) menunjukkan bahwa paklobutrazol dengan dosis 0,05 g/pohon sudah cukup efektif untuk meninduksi pembungaan mangga gadung 21, tetapi diikuti dengan aplikasi zat pemecah dormansi 1 bulan setelah penyemprotan paklobutrazol. Paklobutrazol menyebabkan bungan terinduksi, tetapi di lain pihak juga menyebabkan munculnya calon tunas generatif. Pemberian zat pemecah dormansi yang diaplikasikan pada mata tunas setelah aplikasi paklobutrazol akan memecahkan tunas dorman dan memaksa tunas-tunas tersebutmuncul. Dari beberapa jens dan konsentrasi zat pemecah dormansi yang digunakan, yang efektif memecahkan tunas bunga dorman yang telah terinduksi oleh pemberian paklobutrazol adalah benzil adenin 0,10 g/liter, etefon 0,40 g/l dan KNO3 40 g/l. Karena harga benzil adenin mahal dan sulit larut dalam air, untuk tujuan komersil disarankan untuk menggunkan etefon. Benzil adenin adalah zat pengatur tumbuh kelompok sitokinin yang berfungsi meningkatkan laju pembelahan sel meristem pada mata tunas sehingga memacu perkembangan dan pertumbuhan tunas tersebut. Sedangkan etefon mampu memecah dormansi mata tunas generatif karena etilen yang dilepaskan dari hasil reaksinya dalam tanaman meningkatkan permeabilitas membran sel sehingga mempermudah gerakan molekul ke sitoplasma. Kemampuan KNO3 dalam memecah dormansi mungkin berhubungan dengan peran ion k+ dalam meningkatkan translokasi sukrosa, peningkatan laju transportasi sukrosa pada apoplas dari sel mesofil daun, peningkatan laju transportasi sukrosa pada aoplas dari sel mesofil daun, peningkatan pemuatan pada floem maupun pengaruh langsung dari peningkatan tekanan osmosis ( Marschner,1986).

Paklobutrazol dapat diaplikasikannpada tanaman melalui 2 cara, yaitu: dengan penyemprotan melalui daun (folliar spray) dan melalui tanah ( soil drenchhing ). Aplikasi lewat tanah lebih efektif dibanding lewat daun dan pengaruhnya dapat bertahan lebih lama. Aplikasi lewat daun akan efektif jika dilakukan beberapa kali penyemprotan dengan dosis rendah. Untuk mangga, pemberian melalui tanah dengan cara disiramkan disekitar pangkal pohon dilakukan pada tanaman yangsehat dan pucuknya tidak sedang menumbuhkan pucuk atau daun muda. Sedangkan zat pemecah dormansi disemprotkan melalui daun secara merata keseluruh permukaan tanaman satu bulan setelah pemberian paklobutrazol ( Subhadrabhandu dan Tongumpai, 1990).

Selain paklobutrazol, ZPT yang lain adalah cyclosel. tetapi paklobutraol lebih efekif dibandingkan cyclosel dengan efek yang bisa bertahan sampai lebih dari satu tahun setelah perlakuan sementara retardan lain hanya mampu bertahan satu musim. Efek residu paklobutrazol pada mangga dilaporkan oleh Subhadrabandhu dan tongumpai (1990), bahwa mangga yang pada tahun pertama disemprot dengan 2 grm/ pohon kemudian pada tahun berikutnya disemprot lagi dengan 0,5;1,0;dan 1,5 gram/ pohon,dosis 0,5 dan 1,0 gram / pohon disamping menginduksi pembungaan juga meningkatkan prosentase tunas yang berbunga, sedangkan dosis 1,5 gram /pohon justru menghambat pembungaan mangga. Data tersebut menunjukan bahwa pemberian paklobutrazol secara terus-menerus akan berdampak buruk bagi pertumbuhan dan pembungaan berikutnya.

Kalium nitrat (KON3) juga dilaporkan dapat digunakan untuk merangsang produksi buah diluar musim. Keberhasilan penggunaan kalium nitrat dalam merangsang produksi buah diluar musim telah dilaporkan oleh efendi (1994) pada mangga. Di philipina penggunaan kalium nitrat pada mangga telah dilakukan sejak tahun 1979. penemuan tersebut memungkinkan Philipina memproduksi buah mangga kultivar pico,carabao dan pahutan sepanjang tahun dan menghilangkan biennial bearing (Bondad,1990). Zat pengatur tumbuh NAA (Naftalena Acetic Acid) juga dilaporkan dapat mempercepat pembungaan mangga. Pemberian dosis 25,50,dan 75 ppm dapat mempercepat tanaman berbungan 1-2 minggu dibandingkan dengan yang tidak diberi NAA. Frekwensi penyemprotan 1 minggu sekali selama 12 minggu.

Semua Produk dapat Diperoleh di PT SIGMA GLOBAL HITECHS

081318942462

Tehnik Memproduksi Rambutan di Luar Musim

17/08/2010

Rambutan (Nephelium loppacum L.) merupakan buah asli indonesia dengan sifat berbuah musiman. Produksi buah rambutan diluar musim masih belum banyak dilakukan dalam skala usaha komersial. Pohon rambutan secara alami akan sulit untuk bisa berbuah dua kali dalam satu tahun, karena induksi pembungaan tergantung dari faktor lingkungan tumbuh.

Pada saat memasuki fase rproduktif, rambutan mampu menghasilkan banyak bunga. Bungan biasanya muncul pada trubus yang terbentuk pada tahun tersebut.malai bunga memiliki banyak percabangan. Dalam setiap cabang muncul banyak bunga. Bunga tumbuh pada ujung-ujung ranting yang sering kali ditemukan tumbuh bersamaan dengan munculnya daun baru. Pohon rambutan umur 7 tahun mampu menghasilkan 600 – 800 malai bunga per pohon, dalam satu malai terdapat sekitar 17-28 anak malai. Setiap malai mengandung 500-1700 individu bunga (liferdi,2000)

Induksi pembungaan rambutan dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya dengan kerat batang dan stres air. Penerapan metode tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca lokal/mikroklimat dan status cadangan makanan dalam tanaman, karena kedua hal tersebut berpengaruh kuat terhadap pembungaan dan pembuahan rambutan. Di Indonesia rambutan hanya berbuah satu kali setahun, dengan musim panen berkisar antara Desember – februari. Pada daerah dengan pola musimhujan yang kontinyu, waktu pembungaan tidak teratur. Intensitas pembungaannya berhubungan erat dengan tingkat dan lamanya tanaman mengalami stres air.

Pohon rambutan yang diberi perlakukan kerat batang dan diikuti dengan perlakuan penyemprotan KNO3 sebanyak 40 g/liter mampu berbunga 30 hari lebih awal di banding pohon kontrol. Keberhasilan perlakuan ini sangat dipengaruhi kapan dilakukannya kerat batang tersebut. Kerat batang yang dilakukan pada saat pohon memasuku fase lambat tumbuh, yaitu trubus aktif telah telewati, akan dapat menginduksi bunga, sedangkan kerat batang yang dilakukan pada pohon yang trubusnya masih aktif (tunas vegetatif masih muda) waktu berbunganya berdeda tidak nyata dengan pohon kontrol (Poerwanto dan Irdiastuti,2003). Perlakuan kerat batang juga dapat menginduksi pembungaan off season pada masa on year dan pembungaan rambutan off season pada masa off year. Perlakuan kerat batang hanya boleh dilakukan pada pohon yang sehat secara fisik. Pengeatan dua kali dalam dua tahun berturut-turut dapat membahayakan kelangsungan hidup pohon karena jaringan tapis didaerah bekas luka sulit terbentuk.

Selain perlakuan kerat batang stres air dapat digunakan untuk merangsang pembungaan karena ramputan memberikan respon positif terhadap periode kekereingan singkat yang diperlukan untuk pembentukan bunga. Intensitas pembungaannya berhubungan dengan tingkat dan lamanya tanaman mengalami stres air. Munculnya bunga berhubungan erat dengan adanya musim kering yang diikuti turunnya hujan sekali sekali. Hasil penelitian Liferdi (2000) menunjukan bahwa rambutan memerlukan periode kering sebelum berbunga. Setelah mengalami musim kering selama satu bulan, bunga rambutan muncul sekitar dua minggu setelah mendapat pengairan atau setelah hujan turun kembali.

Paklobutrazol dapat menginduksi rambutan berbunga pada mas off year. Rambutan yang diberi perlakuan paklobutrazol 1,5 g/pohon dan 3 g / pohon nyata meningkatkan jumlah tunas generatif dan meningkatkan kandungan klorofil daun yang menyokong buah dibandingkan dengan pohon kontrol. Dosis optimum untuk menginduksi bunga adalah 1,5 g / pohon karena dosis tersebut tidak menyebebkan tunas dorman, sedangkan dosis 3 g / pohon menyebabkan tunas dorman sehingga perlu diikuti dengan pemberian zat pemecah dormansi, KNO3.

Semua Produk Memproduksi Buah Rambutan diluar musim dapat di beli di

PT SIGMA GLOBAL HITECHS

081318942462

Kendala dan Upaya Pengembangan Buah Tropika

09/08/2010

Setidaknya ada lima kendala dalam pengembangan buah-buahan di Indonesia, yaitu:
1. Ketersediaan bibit unggul dengan mutu genetik yang baik.
2. Keterbatasan paket tehnologi produksi buah-buahan.
3. Investor enggan menanam modal dalam bidang agribisnis.
4. Lahan yang mempunyai tingkat kesesuaian yang tinggi untuk budidaya daya buah – buahan sulit di temukan.
5. Panen buah bersifat musiman sehingga ketersediaan melimpah dan harga turun pada saat panen raya.

Varietas unggal merupakan faktor utama penunjang keberhasilan pengembangan buah-buahan. Penelitian yang dilakukan belum mampu menghasilkan teknologi baru dan atau varietas unggul masih sangat terbatas sehingga varietas superior buah-buahan tropis yang dimiliki sangat langka.Varietas unggul buah-buahan di produksi dalam jumlah yang sedikit, tidak seperti pada benih jagung dan padi. Dalam satuah luas tanaman buah ditanam dengan jumlah yang sedikit karena jarak tanam yang besar disamping itu masa produktif yang lama, sehingga pihak swasta kurang tertarik untuk berinvestasi melakukan penelitian dan pengembangan tanaman buah-buahan.

Pemuliaan tanaman buah-buahan melalui seleksi genetik bertujuan untuk menghasilkan tanaman buah-buahan yang sesuai dengan tututan pasar. Penelitian tanaman buah memerlukan waktu yang lama, waktu yang diperlukan sampai bertahun-tahun agar hasil penelitian dapat diterapkan. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antara pemerintah, para peneliti dan industri pelaku agribisnis buah-buahan agar terjadi link antara hasil penelitian dengan kebutuhan pelaku agribisnis.

Masa juvenil atau masa tanam belum berbuah yang lama pada tanaman buah-buahan menyebabkan investor krang tertarik untuk menanamkan modal dalam agribisnis buah-buahan tropika. Petani juga enggang mengembangkan tanaman buah dalam skala luas dan komersil. Selain masa juvenil yang lama antara 4 sampai 10 tahun ketersediaan teknologi, sumber daya manusia yang mempunyai pengetahuan pada bidang ini juga sangat terbatas, sifat produk yang mudah rusak dan sebagainya.

Untuk memperpendek masa pengembalian investasi dalam agribisnis buah tropika antara lain dapat dilakukan dengan cara: memacu pertumbuhan tanaman agar cepat berbuah, penanaman dengan populasi tinggi dan menanam tanaman crash crop sebagai tanaman sela ( Poerwanto,2003). Upaya untuk memacu pertumbuhan agar masa juvenil lebih cepat terlewati sehingga tanaman cepat berproduksi dapat dilakukan dengan cara: menggunakan media tumbuh yang sesuai saat pembibitan, penggunaan bibit dari hasil perbanyakan secara vegetatif seperti cangkok, stek, sambung puck dan okulasi, pemberian zat pengatur tumbuh, pemberian mikoriza dan pemeliharaan yang baik. Kendala lain adalah lambatnya tanaman buah mencapai puncak produksi, ada beberapa cara untuk mengatasi lamanya tanaman buah mencapai masa puncak produksi misalnya dengan melakukan penanaman dengan populasi tinggi cara ini dilakukan dengan menanam tanaman lebih rapat dari jarak tanam yang dianjurkan, setelah tajuk rapat dilakukan penjarangan, biaya yang di perlukan memang cukup besar tetapi tanaman akan mencapai masa puncak produksi lebih cepat. Penanaman tanaman cras crop yang cepat panen sebagi tanaman sela dapat memberikan penghasilan sebelum tanaman buah menghasilkan, misalnya dengan menanam pepaya atau pisang sebagi tanaman sela sampai tahun ke empat atau kelima. Keuntungannya adalah tanama sela bisa sebagai tanaman pelindung dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi sehingga periode pengembalian investasi bisa lebih pendek.

Mutu buah yang dihasilkan tergantung dari kemampuan tanaman beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya oleh karena itu penanaman harus mengacu pada habitat tumbuh yang sesuai. Meskipun negara kita luas tetapi cukup sulit untuk mendapatkan lahan yang mempunyai tingkat keksesuaian yang tinggi untuk pengembangan tanaman buah karena sudah dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas lain. Tersedianya peta Perwilayahan Komoditas, yang dibuat berdasarkan ketersediaan lahan, kesesuaian lahan dan agroklimat, nilai ekonomi buah yang dikembangkan , peluang pasar dan harga, ketersediaan dan penguasaan tehnologi dan dukungan pemerintah setempat. Dengan cara demikian pengembangan konsep one village one variety dapat diterapkan sehingga dapat meningkatkan potensi daerah.

Permasalahan penting yang dihadapi para eksportir buah saat ini adalah ketidak , mampuan untuk memenuhi kuantitas dan kontinuitas permintaan dari negara pengimpor. Sifat musiman menyebabkan ketersediaan buah melimpah pada musim panen danti tidak ada suplai saat tidak musim shingga kesinambungan pemasaran / ekspor menjadi tergantung. Sifat musiman dari segi agribisnis tentu tidak menguntungan, karena mmenyebabkan fluktuasi harga. Pada saat musim panen harganya merosot sangat tajam, sedangkan pada awal dan akhir musim panen harganya menjadi tinggi. Perentangan periode pembuahan dengan mempercepat awal musim buah dan atau memperlambat akhir musim buah akan memberikan keseimbangan penawaran-permintaan dalam rentang waktu yang lebih panjang. Cara tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan teknologi produksi buah di luar musim agar tidak semua pohon berbuah pada saat yang sama.

Budi daya Kelapa Sawit

21/06/2010

I. PENDAHULUAN
Agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global selalu dituntut akan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi.
PT. SIGMA GLOBAL HITECHS berusaha berperan dalam peningkatan produksi budidaya kelapa sawit secara Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).

II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
2.2. Media Tanam
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Penyemaian

Kecambah dimasukkan polibag 12×23 atau 15×23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40×50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan PPC SIGMAFOLLIAR 2 ml per liter air. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90×90 cm.
3.1.2. Pemeliharaan Pembibitan
Penyiraman dilakukan dua kali sehari. Penyiangan 2-3 kali sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Bibit tidak normal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Seleksi dilakukan pada umur 4 dan 9 bulan.
Pemupukan pada saat pembibitan sebagai berikut :

Pupuk Makro

> 15-15-6-4

Minggu ke 2 & 3 (2 gram); minggu ke 4 & 5 (4gr); minggu ke 6 & 8 (6gr); minggu ke 10 & 12 (8gr)

> 12-12-17-2

Mingu ke 14, 15, 16 & 20 (8 gr); Minggu ke 22, 24, 26 & 28 (12gr), minggu ke 30, 32, 34 & 36 (17gr), minggu ke 38 & 40 (20gr).

> 12-12-17-2

Minggu ke 19 & 21 (4gr); minggu ke 23 & 25 (6gr); minggu ke 27, 29 & 31 (8gr)

> PPC
SIGMAFOLLIAR

Mulai minggu ke 1 – 40 (2ml/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali).


Catatan : Akan Lebih baik pembibitan diselingi/ditambah dengan penyemprotan SIGMAFOLLIAR setiap 2 minggu sekali, dengan dosis 10ml/5liter air.


3.2. Teknik Penanaman
3.2.1. Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.
3.2.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50×40 cm sedalam 40 cm. Sisa galian tanah atas (20 cm) dipisahkan dari tanah bawah. Jarak 9x9x9 m. Areal berbukit, dibuat teras melingkari bukit dan lubang berjarak 1,5 m dari sisi lereng.
3.2.3. Cara Penanaman
Penanaman pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang. Segera ditimbun dengan galian tanah atas. Siramkan PPC SIGMAFOLLIAR secara merata dengan dosis 2 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 2 tutup/tangki).


3.3. Pemeliharaan Tanaman
3.3.1. Penyulaman dan Penjarangan
Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.
3.3.2. Penyiangan
Tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma.
3.3.3. Pemupukan
Anjuran pemupukan sebagai berikut :
Pupuk Makro

Urea

  1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
  2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst

225 kg/ha
1000 kg/ha

TSP

  1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
  2. Bulan ke 48 & 60

115 kg/ha
750 kg/ha

MOP/KCl

  1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
  2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst

200 kg/ha
1200 kg/ha

Kieserite

  1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
  2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst

75 kg/ha
600 kg/ha

Borax

  1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
  2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst

20 kg/ha
40 kg/ha


NB. : Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September – Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret- April).


PPC SIGMAFOLLIAR
a. Dosis PPC SIGMAFOLLIAR mulai awal tanam :

0-36 bln

2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 4 – 5 bulan sekali

>36 bln

3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 3 – 4 bulan sekali


b. Dosis PPC SIGMAFOLLIAR pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak dari awal memakai PPC SIGMAFOLLIAR
Tahap 1 : Aplikasikan 3 – 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali. Dosis 3-4 tutup/ pohon

3.3.4. Pemangkasan Daun
Terdapat tiga jenis pemangkasan yaitu:
a. Pemangkasan pasir
Membuang daun kering, buah pertama atau buah busuk waktu tanaman berumur 16-20 bulan.
b. Pemangkasan produksi
Memotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk (songgo dua) untuk persiapan panen umur 20-28 bulan.
c. Pemangkasan pemeliharaan
Membuang daun-daun songgo dua secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-54 helai.
3.3.5. Kastrasi Bunga
Memotong bunga-bunga jantan dan betina yang tumbuh pada waktu tanaman berumur 12-20 bulan.
3.3.6. Penyerbukan Buatan
Untuk mengoptimalkan jumlah tandan yang berbuah, dibantu penyerbukan buatan oleh manusia atau serangga.
a. Penyerbukan oleh manusia
Dilakukan saat tanaman berumur 2-7 minggu pada bunga betina yang sedang represif (bunga betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan). Ciri bunga represif adalah kepala putik terbuka, warna kepala putik kemerah-merahan dan berlendir. Cara penyerbukan:
1. Bak seludang bunga.
2. Campurkan serbuk sari dengan talk murni ( 1:2 ). Serbuk sari diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium, semprotkan serbuk sari pada kepala putik dengan menggunakan baby duster/puffer.
b. Penyerbukan oleh Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit
Serangga penyerbuk Elaeidobius camerunicus tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dilepas saat bunga betina sedang represif. Keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak lebih besar 15% dan produksi inti (minyak inti) meningkat sampai 30%.

3.4. Panen
3.4.1. Umur Panen
Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.